sepenggal kisah ajengan zezen
Alm KH Zezen Zainal Abidin merupakan
salah satu ulama karismatik di Sukabumi. Tak hanya di Tanah Air, aura
keulamaannya juga sampai ke negeri tetangga, Malaysia dan negara-negara
di Timur Tengah. Guru-guru dan tokoh agama di Malaysia juga pernah
belajar di Ponpes Riyadhul Al-Fiyyah Wal-hikam Azzainiyyah (Ponpes
Azzainiyah) Nagrog, Desa Perbawati, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi.
Berikut sedikit kisah unik yang dialami penulis tentang alm.
UNTUNG BACHTIAR, Sukabumi
Perkenalan saya dengan alm KH Zezen
Zainal Abidin pada Mei 2011 lalu, saat mulai bertugas di Radar Sukabumi.
Kala itu, saya ingin bekerja sama dengan MUI Kabupaten Sukabumi tentang
rubrik Ramadan. Pengisi di rubrik ini rencananya hanya KH Zezen Zainal
Abidin. Beruntung dalam pertemuan ini, bersua dengan ajengan, sehingga
kerja sama pun cepat terealisasi.
Ada satu, pernyataan KH Zezen yakni agar
jangan dirinya yang sering tampil di rubrik tersebut, tapi ulama dan
kyai yang lain harus lebih dominan. Selain itu, ulama tidak pandai
menulis, tapi mahir dalam bicara atau pidato di mimbar, makanya Redaksi
Radar juga harus menularkan ilmu cara menulis yang baik dan mudah kepada
ulama dan kyai yang tergabung dalam wadah MUI. Apalagi perkembangan
teknologi informasi (TI), menuntut ulama untuk bisa menulis yang bisa
disebar di media cetak, media sosial.
Dalam perjumpaan tersebut, alm bercerita
soal penyebaran agama Islam di Sukabumi dan aliran-aliran sesat yang
masih ada di wilayah kabupaten. Dia juga meminta wartawan, khususnya
Harian Radar Sukabumi menjadi corong MUI dalam berdakwah dan memerangi
aliran-aliran sesat di Sukabumi.
”Koran lokal harus menampilkan
berita-berita daerah yang banyak. Tapi lebih penting lagi membantu para
ulama dalam berdakwah dan mencerdaskan masyarakat,” kata alm kala itu.
Alm juga menceritakan bahwa dirinya
sering mendapatkan undangan dari ulama dari negari tetangga, Malaysia
untuk membantu dalam mensiarkan agama Islam di negeri jiran tersebut.
Bahkan guru-guru dan ulama dari Malaysia, Iran dan beberapa negara Timur
Tengah juga pernah belajar di Ponpes Azzainiyah.
Ada satu cerita yang selalu saya ingat
tentang alm, yakni saat kunjungan Menteri BUMN Dahlan Iskan pada 10 Mei
2012 silam. Kala itu, sekitar pukul 21.30, Dahlan Iskan tiba di
Sukabumi. Mendengar kabar Dahlan Iskan ke Sukabumi, alm menelpon saya
agar Dahlan Iskan mampir sebentar di Ponpes Azzainiyah.
Alm ingin bertemu dan berbicara dengan
Dahlan Iskan. Sementara berdasarkan roundown atau jadwal kegiatan Dahlan
Iskan di Sukabumi, tidak ada agenda ke Ponpes Azzainiyah. Saya pun
menyampaikan pesan alm ini ke atasan saya CEO Radar Bogor Grup, Hazairin
Sitepu dan Sekretaris Dahlan Iskan, Budi Rahman Hakim.
”Tidak bisa, abah (sapaan akrab Dahlan
Iskan, red) harus tidur tepat waktu, jam 22.00, karena dalam tahap
penyembuhan operasinya. Apalagi besok banyak agenda,” kata Hazairin
Sitepu kepada saya.
Saya malam itu, satu mobil bersama bos
saya, Hazairin Sitepu dan Budi Rahman Hakim. Saya sebagai penunjuk arah
menuju tempat bermalam Dahlan Iskan di rumah Ma Cicih, pekerja
perkebunan PTPN VIII Goa Para. Pesan bos saya, pak Dahlan tidak mau
menginap di hotel berbintang, tapi senang bermalam di rumah warga yang
rumahnya panggung.
Makanya saya mencarikan rumah panggung
di bedeng pekerja Perkebunan PTPN VIII Goa Para. Alm pun menelpon saya
kembali untuk kedua kalinya dan meminta agar Dahlan Iskan mampir ke
rumahnya sekaligus ponpes, apalagi alm mengetahui Dahlan Iskan menginap
di salah satu bedeng perkebunan PTPN VIII.
Sementara lokasi pesantren sebelum
bedeng di perkebunan teh tersebut. ”Pak Untung mohon pak Dahlan mampir
barang lima menit saja,” kata alm kepada saya.
Tapi lagi-lagi bos saya meminta jangan mampir-mampir lagi, karena pak Dahlan kelelahan dari perjalanan Jakarta-Sukabumi hampir enam jam di dalam kendaraan.
Tapi lagi-lagi bos saya meminta jangan mampir-mampir lagi, karena pak Dahlan kelelahan dari perjalanan Jakarta-Sukabumi hampir enam jam di dalam kendaraan.
Saya pun mengirim pesan short message
service (SMS) ke beliau, tetap mengusahakan agar Dahlan Iskan mampir.
Apalagi teman-teman di Radar juga mendapatkan pesan dari alm agar pak
Dahlan singgah sebentar.
Mobil yang ditumpangi saya dan bos saya
berada di depan melaju begitu kencang. Sementara mobil yang ditumpangi
Dahlan Iskan persis di belakang, menguntit ke mana pun mobil yang saya
tumpangi berjalan.
Singkatnya persis di depan Pesantren
Azzainiyah, mobil yang saya tumpangi tetap melaju cepat. Tapi keajaiban
datang, mobil Mercy yang ditumpangi Dahlan Iskan tiba-tiba berhenti,
setelah warga sekitar dan beberapa santri Ponpes Azzainiyah
melambai-lambaikan tangan ke arah mobil Dahlan Iskan.
Dahlan Iskan yang belum mengenal dan
mengetahui alm pun turun dari mobilnya. Di luar dugaan saya, Dahlan
berjalan kaki menuju kediaman alm di Komplek Pesantren Azzainiyah. Dalam
hati saya mustahil peristiwa ini terjadi, karena alm dengan pak Dahlan
belum pernah bertemu dan saling mengenal sebelumnya, apalagi punya nomor
handphone (HP)nya, karena sebelumnya justru alm menelpon ke saya, bukan
ke pak Dahlan.
Dalam pertemuan malam itu, Dahlan Iskan
mengagumi sosok karismatik alm. “Saya kagum dengan pola pikir dan gaya
bicaranya,” kata Dahlan kala itu. Silaturahami dadakan di kediaman KH
Zezen juga dihadiri Wakil Bupati Sukabumi kala itu, Akhmad Jajuli
(sekarang calon Bupati Sukabumi), rombongan dari Kementerian BUMN, Kabag
Bina Keagamaan Setda Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar berlangsung
hangat dan akrab.
Dahlan Iskan begitu khusyuk mendengarkan
kata demi kata alm yang bercerita tentang agama serta seputar program
yang sudah dilakukan MUI Kabupaten Sukabumi. Sesekali Dahlan Iskan pun
berbicara tentang agama dan pengalaman spritual pribadinya. Kekaguman
yang sama juga dilontarkan bos saya, CEO Radar Bogor, Hazairin Sitepu.
Menurutnya, KH Zezen meski baru pertama kali bertemu langsung dengan
Dahlan Iskan, namun mampu memposisikan sebagai seorang ulama yang lugas
dalam berbicara, luas dalam memaparkan agama. “Saya kagum dengan ajengan
satu ini, pembicaraan lugas dan mampu dengan cepat beradaptasi dengan
Pak Dahlan,” ujarnya.
Usai berbincang dengan KH Zezen, Dahlan
menginap di rumah Ma Cicih warga Kampung Perbawati, Kecamatan Sukabumi,
Kabupaten Sukabumi. Kedatangan Dahlan di rumah Ma Cicih ini pun membuat
kaget penghuni kampung yang mayoritas pekerja perkebunan PTPN VIII Goa
Para.
Usai tidur dan beristirahat lima jam, Dahlan bersama rombongan Salat Subuh berjamaah di Masjid Kompleks Pesantren Az-Zainiyah, yang lokasinya tak jauh dari rumah Mak Cicih.
Usai tidur dan beristirahat lima jam, Dahlan bersama rombongan Salat Subuh berjamaah di Masjid Kompleks Pesantren Az-Zainiyah, yang lokasinya tak jauh dari rumah Mak Cicih.
Usai Salat Subuh, seperti biasa Pimpinan
Ponpes Az-Zainiyah, alm menyampaikan ceramah agama. Setelah itu, KH
Zezen memberikan kesempatan kepada Dahlan Iskan menyampaikan sambutan.
Di sini Dahlan menceritakan garis besar perjalanan hidupnya hingga
menjadi Menteri BUMN. Dimulai dari lingkungan keluarganya di Magetan,
Jawa Timur.
Terlahir di keluarga pesantren Dahlan
banyak mempelajari ilmu Agama Islam. Mulai madrasah tsanawiyah hingga
aliyah. Pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini, menyinggung soal
pesantren keluarganya hancur setelah para kiyai di pesantren itu dibunuh
Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebenarnya, kata Dahlan, Ia ingin
melanjutkan dan memperdalam ilmu agamanya hingga menjadi seorang kiyai
atau pengasuh pondok pesantren.
Namun, konon filosofi pesantren di Jawa
penerus pengasuh ponpes dari garis keturunan ayah. Sementara Dahlan,
dari garis keturunan ibu. Makanya Ia berpikir untuk menempuh jalur lain
dalam membesarkan Islam. Dahlan sempat kuliah di Universitas 17 Agustus
dan IAIN (sekarang STAIN) Samarinda. Tapi, di kedua universitas itu,
Dahlan tak menyelesaikannya.
Dahlan memilih menggeluti dunia
kewartawanan. “Waktu kuliah di IAIN, saya tidak semangat kuliah. Soalnya
apa yang diajarkan sudah dipelajari di MAN, bahkan jauh lebih mendalam
saat belajar di aliyah dulu. Akhirnya saya di-DO karena malas kuliah,”
kenang Dahlan yang disambut tawa para jamaah. Setelah itu Dahlan
bercerita soal pengalamannya di dunia jurnalis, hingga jadi pengusaha
lalu menderita penyakit kanker hati. “Saya merasa ditegur Tuhan, untuk
tidak melulu mencari duit,” lirihnya.(*)
(Visited 13 times, 1 visits today)
Komentar
Posting Komentar